Minggu, 06 Maret 2011

Verifikasi Data Sukwan

PEMBERITAHUAN


Kepada seluruh Kepala Sekolah Dasar Negeri agar segera mengumpulkan data sukwan yang masuk ke dalam database Kategori II (Database di BKD) untuk diverifikasi. Data tersebut paling lambat diserahkan ke Sekretaris Umum PGRI Cab. Kec. Tigaraksa Tanggal 08 Maret 2011 Pukul 09.00 WIB.

Format Data Sukwan Kategori II DOWNLOAD DISINI.

Rabu, 02 Maret 2011

Pelantikan Pengurus Ranting

Menidaklanjuti hasil Rapat Kerja Pengurus Cabang dan Ranting di Cisarua - Bogor, Tanggal 05 - 06 Februari 2011, yang salah satu agendanya adalah Pelantikan sekaligus pembekalan Pengurus Ranting yang akan dilaksanakan pada tanggal 04 Maret 2011 di Gedung Serba Guna Kec. Tigaraksa.

Oleh karena hal tersebut, maka bagi seluruh pengurus Cabang dan Ranting agar hadir pada waktu dan tempat sebagaimana tercantum pada Surat Undang.



Senin, 07 Februari 2011

Tupoksi Pengurus

PGRI Cabang Kec. Tigaraksa telah menggelar Rapat Kerja Pengurus di Cisarua - Bogor pada tanggal 05 - 06 Februari 2011. Dalam kegiatan tersebut dibahasa berbagai program yang bersifat rutin dan insidental, namun program-program tersebut tetap mengacu pada tujuan dasar organisasi, yaitu aktualitas pengabdian di masyarakat, kesejahteraan, perlindungan dan juga peningkatan profesionalitas anggota PGRI dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rakerkab PGRI Kec. Tigaraksa dihadiri oleh 54 orang, terdiri dari Pengurus Harian, Sekbid dan anggota ranting. Dinamika organisasi begitu terasa saat pemaparan program dibacakan oleh masing-masing sekbid. Disana tercipta antuasiasme anggota dalam menginginkan akselerasi pada tubuh organisasi PGRI itu sendiri. Rasa kepemilikan dan loyalitas yang tinggi tampak mewarnai jalannya raker.

Program-program yang dibahas adalah program jangka pendek 1 tahun. Sekretaris Bidang Pengurus Cabang bertanggung jawab mengimplementasikan amanat raker. Namun untuk membantu terlaksananya amanat tersebut, sekbid dibantu oleh pengurus ranting seperti pada tabel di bawah ini;

No.

Nama Sekbid

Tim Pelaksana Program

1

Organisasi dan Kaderisasi
  1. Drs. H. Abd. Malik, M.Pd (Koordinator)
  2. Drs. Mujtahidin (SMAN 1 Tigaraksa)
  3. Agum Gumelar (SMKN 4 Tangerang)
  4. Efa Susanti (SMPN 1 Tigaraksa)
  5. Euis Rahmawati (SMKN 4 Tangerang)

2

Ketenagaan dan Kesra
  1. Sukirno, S.Pd (Koordinator)
  2. Ita Sumpena, S.Pd (SDN Cigaling)
  3. Drs. Agus Setyono (SMAN 1 Tigaraksa)
  4. Suardi, M.Pd (SMPN 2 Tigaraksa)
  5. Suhendi, S.Pd (SDN Bantarpanjang)

3

Informasi dan Komunikasi
  1. Momon Suherman, S.Pd (Koordinator)
  2. Cucu Syaefullah, S.Pd (SDN Kadongdong)
  3. Didi Ichwandi, S.Pd (SMAN 1 Tigaraksa)
  4. Eko Sudjatmiko, S.Pd (SDN Seglog)
  5. Opik Ropiudin (SDN Sodong 1)

4

Litbang
  1. Holis Rama Prihatin, S.Pd (Koordinator)
  2. Yanwar Maulana, S.Pd (SDN Kaduagung I)
  3. Cecep Saepudin, S.Pd (SDN Cogreg I)
  4. Dede Uron (SDN Kaduagung II)
  5. Andi Rama Putra (SDN Cisereh I)

5

Pendidikan dan Pelatihan
  1. Solihah, S.Pd (Koordinator)
  2. Drs. H. A. Malik, M.Pd (SMPN 1 Tigaraksa)
  3. Endang Heryana, S.Pd (SDN Bantarpanjang)
  4. Simon, S.Pd (SMAN 2 Tigaraksa)
  5. Mimin Arsikah (SD Alfikri)
  6. Halyubiah (SMAN 1 Tigaraksa)
  7. Serfi Dauli S. (SMKN 4 Tangerang)

6

Hub. Kerjasama antar Lembaga
  1. Akhmad Hidayat, S.Pd (Koordinator)
  2. M. Juhdi (SDN Kadu)
  3. Suherman (SDN Seglog)
  4. M. Ridwan, S.Pd (SMPN 3 Tigaraksa)
  5. M. Rangga, S.Pd (SMPN 3 Tigaraksa)
  6. Agus Supriatna, S.Pd (SDN Cisereh 1)
  7. Rasim, S.Pd (SMAN 2 Tigaraksa)

7

Peng. Karir dan Profesi
  1. Mugi Raharjo, S.Pd (Koordinator)
  2. Lukman Hakim, S.Pd (SMAN 1 Tigaraksa)
  3. Suardi, M.Pd (SMPN 2 Tigaraksa)

8

Kerohanian
  1. Ita Sumpena, S.Pd (Koordinator)
  2. Suhendi, S.Pd (SDN Bantarpanjang)
  3. Drs. Sumarjono (SDN Sodong 1)
  4. Maosul Hendar amin, S.Pd (SMPN 1 Tigaraksa)

9

Pemberdayaan Perempuan
  1. Hj. Afidah, S.Ag (Koordinator)
  2. Sukaryati (SDN Kadongdong)
  3. Ema Surtini (SDN Cogreg I)
  4. Murni Rotiani (SDN Sodong 2)
  5. Juzaemah (SDN Kadu)
  6. Dra. Epon Haryati (SMPN 1 Tigaraksa)

10

Peng. Kes. Keb. dan Olah Raga
  1. M. Yusuf, S.Pd.I (Koordinator)

Olah Raga;

  • Warnita (SDN Tigaraksa IV)
  • Mugi Raharjo (SMPN 3 Tigaraksa)
  • Umdani, S.Pd (SDN Tigaraksa 4)

Seni dan Budaya;

  • Bambang (SMPN 1 Tigaraksa)
  • Nandang Karyaman (SDN Cisereh 2)
  • Yasin Khitoni (SMAN 2 Tigaraksa)

11

Pengabdian Masyarakat
  1. Marwi Alqutubi (Koordinator)
  2. Alpin Putrawan, SH (SDN Kaduagung 2)
  3. Badri, S.Pd (SDN Tapos Wetan)
  4. Cecep Saepudin (SDN Cogreg I)
  5. Tartim (SDN Cigaling)

12

Advokasi dan Perlindungan Hukum
  1. Drs. Mujtahidin (SMAN 1 Tigaraksa)
  2. Alpin Putrawan, SH (SDN Kaduagung 2)
  3. Lukman Hakim, S.Pd (SMAN 1 Tigaraksa)

Masing-masing Sekbid sudah harus menyerahkan draft program ke Sekretaris Umum paling lambat tanggal 20 Februari 2011. Adapun sistematika pengajuan draft sebagai berikut;

  1. Pendahuluan

  2. Nama Kegiatan

  3. Tujuan

  4. Sasaran

  5. Peserta Kegiatan

  6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

  7. Susunan Panitia

  8. Budget/Anggaran Biaya

  9. Penutup

Draf yang diajukan akan dibukukan dan dipublikasikan kepada seluruh anggota PGRI Kec. Tigaraksa sebagai acuan kerja atau agenda kegiatan organisasi. Kepada masing-masing koordinator dan tim pelaksana dapat mengetahui kontak person tim-nya dengan mengunduhnya KLIK DISINI (Karena alasan privasi, lembar unduhan menggunakan password, untuk mengetahui password tersebut silahkan hubungi sekretaris umum).

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan jalan terbaik untuk keberlangsungan organisasi ini. Amin.

Minggu, 30 Januari 2011

Rapat Kerja PGRI Cabang Kec. Tigaraksa

Seiring dengan perkembangannya, PGRI telah menunjukan kiprah yang positif dalam kehidupan guru, khususnya dalam peningkatan kesejahteraan anggotanya. Lahirnya Undang-undang Guru dan Dosen dan Tunjangan Profesi Guru (Sertifikasi Guru) adalah contoh riel dari perjuangan PGRI.


Terbentuknya Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Kec. Tigaraksa merupakan amanat yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Untuk mewujudkan amanat tersebut kedalam karya bakti yang nyata, dan dapat menyentuh kebutuhan anggota, maka dibutuhkan pedoman/acuan kerja agar kinerja organisasi dapat berjalan secara optimal.


Pengurus PGRI Cabang Kecamatan Tigaraksa masa bakti 2009-2014 telah terbentuk sejak tanggal 19 Desember 2009. Itu artinya, organisasi telah berjalan selama satu tahun tanpa arah dan pedoman, karena sampai saat ini PGRI Kabupaten Tangerang belum menggelar Konkerkab. Hal itu jelas berinplikasi negatif pada perkembangan organisasi di bawah, yang dalam hal ini Organisasi Cabang. Jika merunut regulasi organisasi PGRI, Pengurus Provinsi belum boleh melaksanakan Rakerprov sebelum Rakernas dilaksanakan, dan Rakerkab belum boleh dilaksanakan sebelum Rakerprov terselenggara. Begitupun dengan Cabang. Pengurus Cabang tidak layak dan tidak patut melaksanakan Rakercab jika Pengurus Kabupaten belum menyelenggarakan Raker. Hal ini adalah regulasi atau Tata Tertib Organisasi yang harus dipatuhi oleh seluruh pengurus.


Belum terselenggaranya Rakerkab bukan tanpa alasan. Hal ini diakibatkan oleh besarnya “ujian” yang dihadapi oleh PGRI, salah satunya penghapusan Ditjen PMPTK. Hampir satu tahun konsentrasi PGRI dari tingkat pusat hingga daerah terkuras oleh keputusan tersebut. Karena bagaimanapun, PMPTK adalah wadah guru dalam pengembangan karirnya. Berbagai upaya dilakukan PGRI untuk mendesak pemerintah agar keputusan penghapusan Ditjen PMPTK dicabut.


Konferensi Kerja (Konker) adalah syarat mutlak bagi setiap pengurus untuk mengemban amanat anggota dalam memajukan roda organisasi. Tanpa Raker atau konker organisasi tak ubahnya seperti kapal tanpa nahkoda, “berjalan tanpa arah”. Setiap kegiatan yang terselenggara hanya bersifat inprovisasi. Namun pertanyaannya adalah “Apakah jika Pengurus Cabang menyelenggarakan konkercab menyalahi regulasi organisasi?”. Pertanyaan ini muncul dari anggota sendiri, dan munculnya pertanyaan tersebut patut mendapat apresiasi oleh pengurus, karena hal itu menunjukan empati dan kepedulian anggota terhadap organisasi. Guru tidak lagi bersipat skeptis atau apriori terhadap PGRI, hal itu ditunjukan dengan banyaknya respon positif, kritik dan saran yang masuk kepada pengurus cabang. Pengurus Cabang sebagai ujung tombak dari keberjalanan organisasi patut menindaklanjuti masukan-masukan tersebut kedalam karya dan kegiatan yang tentunya harus mengacu pada regulasi yang ada.


Berdasarkan uraian di atas, maka Pengurus PGRI Cabang Kec. Tigaraksa akan melaksanakan Rapat Kerja. Pengurus PGRI Cabang Kec. Tigaraksa tidak menggunakan istilah Konferensi Cabang (Konker), karena jika menggunakan istilah tersebut jelas menyalahi regulasi dan Tata Tertib organisasi, bahkan pada permasalahan yang lebih makro, Konkercab hanya dapat dilaksanakan dengan acuan Konkerkab. Karena pada hakikatnya salah satu fungsi cabang adalah pelaksana amanat konferensi Kabupaten.


Rapat Kerja ini dilaksanakan untuk menentukan jadwal kegiatan organisasi selama minimal satu tahun, dan melakukan pembinaan khususnya kepada pengurus harian dalam melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsinya masing-masing.

Minggu, 10 Januari 2010

Pembentukan Ranting Baru

Dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim, Pengurus Cabang PGRI Kec. Tigaraksa Kab. Tangerang masa bakti 2009-2014 akan membentuk Pengurus Baru Ranting PGRI. Berdasarkan beberapa pertimbangan, Musyawarah Pengurus Cabang mengambil kebijakan tentang pembentukan ranting, yang mana dimungkinkan ada penambahan ranting-ranting baru dan juga ada pula ranting yang disatukan.

Hal tersebut disebabkan karena berdirinya sekolah-sekolah baru, diantaranya SMPN 3 Tigaraksa, SMAN 2 Tigaraksa dan SMKN 4 Tigaraksa. Sementara untuk ranting yang disatukan/di merger adalah ranting Pasirnangka dan ranting Pasirbolang. Berikut ranting-ranting PGRI Kec. Tigaraksa :
  1. Ranting Tigaraksa
  2. Ranting Pasirnangka (merger)
  3. Ranting Pasirbolang (merger)
  4. Ranting Cisereh
  5. Ranting Sodong
  6. Ranting Bantarpanjang
  7. Ranting Kaduagung
  8. Ranting SMPN 1 Tigaraksa
  9. Ranting SMPN 2 Tigaraksa
  10. Ranting SMPN 3 Tigaraksa (ranting baru)
  11. Ranting SMAN 1 Tigaraksa
  12. Ranting SMAN 2 Tigaraksa (ranting baru)
Demikian informasi ini, semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin

Kontak Kami

Office Adress :

Kantor UPT Pendidikan Kec. Tigaraksa
Jl. Aria Jaya Sentika, Kec. Tigaraksa
Kab. Tangerang Prop. Banten 15720


Phone :
  • (021) 5991035
  • 0813 8732 5777
  • 0812 1946 8575
e-Mail :

pgritigaraksa@gmail.com

Jumat, 08 Januari 2010

Sejarah Tangerang

Dulu bernama Tanggeran

Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger dan perang. Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17. Oleh sebab itu, ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata Tanggeran (dengan satu g maupun dobel g). Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut:

Bismillah peget Ingkang Gusti
Diningsun juput parenah kala Sabtu
Ping Gasal Sapar Tahun Wau
Rengsena Perang nelek Nangeran
Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa
Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu
Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah perang kita memancangkan Tugu
Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas
(Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua menjaga tanah kaum Parahyang

Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana (Yudhanegara, Wangsakara dan Santika) yang diangkat oleh penguasa Banten. Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Agung Tirtoyoso (1651-1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten. Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut-turut gugur satu persatu.
Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.
Sebutan “Tangerang” menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken seperti termuat dalam Po No. 34/2604. Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.

Asal Mula Penduduk Tangerang

Latar belakang penduduk yang mendiami Tangerang dalam sejarahnya dapat diketahui dari berbagai sumber antara lain sejumlah prasasti, berita-berita Cina, maupun laporan perjalanan bangsa kulit putih di Nusantara.
“Pada mulanya, penduduk Tangeran boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor, dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangeran sebelah barat”.[1]
Orang Banten yang menetap di daerah Tangerang diduga merupakan warga campuran etnis Sunda, Jawa, Cina, yang merupakan pengikut Fatahillah dari Demak yang menguasai Banten dan kemudian ke wilayah Sunda Calapa. Etnis Jawa juga makin bertambah sekitar tahun 1526 tatkala pasukan Mataram menyerbu VOC. Tatkala pasukan Mataram gagal menghancurkan VOC di Batavia, sebagian dari mereka menetap di wilayah Tangeran.
Orang Tionghoa yang bermigrasi ke Asia Tenggara sejak sekitar abad 7 M, diduga juga banyak yang kemudian menetap di Tangeran seiring berkembangnya Tionghoa-muslim dari Demak. Di antara mereka kemudian banyak yang beranak-pinak dan melahirkan warga keturunan. Jumlah mereka juga kian bertambah sekitar tahun 1740. Orang Tionghoa kala itu diisukan akan melakukan pemberontakan terhadap VOC. Konon sekitar 10.000 orang Tionghoa kemudian ditumpas dan ribuan lainnya direlokasi oleh VOC ke daerah sekitar Pandok Jagung, Pondok Kacang, dan sejumlah daerah lain di Tangeran.. Di kemudian hari, di antara mereka banyak yang menjadi tuan-tuan tanah yang menguasai tanah-tanah partikelir.
Penduduk berikutnya adalah orang-orang Betawi yang kini banyak tinggal di perbatasan Tangerang-Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang di masa kolonial tinggal di Batavia dan mulai berdatangan sekitar tahun 1680. Diduga mereka pindah ke Tangeran karena bencana banjir yang selalu melanda Batavia.
Menurut sebuah sumber, pada tahun 1846, daerah Tangeran juga didatangi oleh orang-orang dari Lampung. Mereka menempati daerah Tangeran Utara dan membentuk pemukiman yang kini disebut daerah Kampung Melayu (Thahiruddin, 1971)[2]. Informasi mengenai seputar migrasi orang Lampung, akan dibahas dalam tulisan ini di bagian bab berikutnya,
Di jaman kemerdekaan dan Orde Baru, penduduk Tangerang makin beragam etnis. Berkembangnya industri di sana, mengakibatkan banyak pendatang baik dari Jawa maupun luar Jawa yang akhirnya menjadi warga baru. Menurut sensus penduduk tahun 1971, penduduk Tangerang berjumlah 1.066.695, kemudian di tahun 1980 meningkat menjadi 1.815.229 dan hingga tahun 1996 tercatat mencapai 2.548.200 jiwa. Rata-rata pertumbuhan per-tahunnya mencapai 5,23% per tahun.
Untuk sekedar memetakan persebaran etnis-etnis di Tangerang, dapat disebutkan di sini bahwa daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Cina serta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangeran Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangeran Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa[3]. Persebaran penduduk tersebut di masa kini tidak lagi bisa mudah dibaca mengingat banyaknya pendatang baru dari berbagai daerah. Maka, apabila ingin mengetahui persebaran etnis di Tangerang, tentunya dibutuhkan studi yang lebih mendalam.

Sumber : Sejarah Tangerang

Pengurus Cabang PGRI Kec. Tigaraksa

A. BADAN PENASEHAT







1. H. A. Suryawijaya


2. Drs. H. Djumbia, S.Pd


3. Supawiharja, S.Pd


4. Drs. Rapiudin


5. Drs. Maman Suarman






B. PENGURUS HARIAN







1. Ketua : H. Abd. Mungsi, S.Pd

2. Wakil Ketua : Endang Heryana, S.Pd

3. Sekretaris : Cucu Syaefullah, S.Pd

4. Wakil Sekretaris : Agus Setyono, S.Pd

5. Bendahara : Ema Surtini, S.Pd





C. SEKRETARIS BIDANG







1. Organisasi & Kaderisasi : Drs. H. Abd. Malik, M.Pd

2. Ketenagaan & Kesra : Sukirno, S.Pd

3. Informasi & Komunikasi : Momon Suherman, S.Pd

4. Litbang : Holis Rama Prihatin, S.Pd

5. Pend. & Pelatihan : Solihah, S.Pd

6. Hub. Kerjasama Antar Lembaga : Akhmad Hidayat

7. Peng. Karir & Profesi : Mugi Raharjo, S.Pd

8. Kerohanian : Ita Sumpena, S.Pd

9. Pemberdayaan Perempuan : Hj. Afidah, S.Ag

10. Peng. Kes. Keb. & Olah Raga : M. Yusuf, S.Pd

11. Pengabdian Masyarakat : Marwi

12. Advokasi & Perlindungan Hukum : Drs. Mujtahidin

Jumat, 15 Mei 2009

Konferensi Cabang PGRI Kec. Tigaraksa

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) adalah sebuah wadah profesi para guru dalam menyampaikan aspirasinya. Sejarah telah mencatat PGRI sebagai bagian yang terintegrasi secara langsung terhadap kemajuan bangsa dan negara. Sebagai Organisasi Profesi, tentunya PGRI membutuhkan kontribusi pemikiran, dan mencoba merubah paradigma yang selama ini berkembang. Merupakan keprihatinan bersama, bahwa statement klasik yang muncul dari para guru khususnya, bahwa real action PGRI tidak dapat dirasakan oleh anggota PGRI.

PGRI yang seharusnya menjadi tumpuan harapan para guru dinilai ‘mandul’, sehingga hal itu berimplikasi pada kurangnya kesadaran diri para anggota PGRI itu sendiri. Ironisnya, bermunculan pula komunitas-komunitas pendidikan lainnya sebagai refleksi ketidakpuasan terhadap kinerja PGRI.
Uraian di atas adalah sebuah paparan real yang berakar ditubuh anggota PGRI. Dan tentunya hal ini diakibatkan kurangnya kesadaran bersama, serta minimnya konsolidasi terhadap anggota. Kesejahteraan dan payung hukum yang selama ini dirasakan oleh anggota PGRI, adalah contoh kecil perjuangan PGRI dalam menciptakan Guru yang sejahtera, visioner dan terlindungi. Namun action-nya saja yang kurang terpublikasikan. Oleh karenanya perlu dikembangkan lagi sebuah sistem organisasi, yang mampu mengakomodir aspirasi anggota sehingga lahirlah sebuah paradigma baru, dan PGRI tidak lagi dipandang sebelah mata oleh anggotanya sendiri.Tujuan didirikannya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) secara umum sebagai berikut :

  1. Mewujudkan cita -cita proklamasi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia berdasarkaa Pancasila dan UUD 195.
  2. Berperan serta aktif mencapaitujuan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
  3. Berperan serta mengembangkan sistem dan pelaksanaan pendidikan nasional.
  4. Mempertinggi kesadaran dan sikap guru, meningkatkan mutu dan kemampuan profesi guru dan tenaga kependidikan lainnya.
  5. Menjaga, memelihara serta meningkatkan harkat dan martabat guru dan tenaga kependidikan melalui peningkatan kesejahteraan anggota serta kesetiakawanan organisasi.
Butir-butir tujuan di atas, terkonsep pada tanggal 28 Oktober 1948 di gedung Van de Venter - Solo, dan seyogyanya semangat di atas harus tetap terjaga sampai kapanpun.

Berdasarkan dari uraian di atas, dengan semata-mata mengharap ridho Allah SWT, serta dalam upaya mencerdasakan kehidupan bangsa sebagai salah satu amanat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, maka Pengurus Cabang PGRI Kec. Tigaraksa akan melaksanakan Konferensi Cabang PGRI Kec. Tigaraksa pada tanggal 30 Nopember 2009.